> Just Me <
Posted 2 weeks ago

Aku sedang rindu

Aku sedang rindu. Dan mungkin selalu rindu. Juga pernah kehilangan rindu.

Namun aku lebih sering rindu, sepertinya.

 

Aku rindu teman2 alumni SDN 14 Lapongkoda, alumni 2005 dan dibawahnya. Hehehe

Aku rindu teman2 alumni SMPN1 Sengkang tahun 2008 (terkhusus Rezki Noviana Agus)

rindu teman2 TIGUT

rindu teman2 jamran, jamcab, jamnas.

rindu teman2 12 PAS

kakak2 dan teman2 OSIS 0809

teman2 dan adek2 OSIS 0910

alumi Smantig tahun 2009, 2010, 2011, 2012… (terkhusus yang 2011)

teman2 APTISI 2006… (terkhusus Zuhelni Zainuddin)

teman2 IKAMI Sulsel Cabang Surabaya

teman2 di Kepmawa Jogja

teman2 LISE Pelajar

rindu guru2

rindu sekolah

rindu kampung

Tapi, apa mereka merindukanku? Atau bahkan sudah melupakanku?

Ah, kamu itu Ki, mesti pikiranmu begitu.

Posthink posthink po’o…

Mereka merindukanmu, namun mungkin lagi sibuk untuk menanyakan kabarmu.
Mereka mengingatmu, tapi mungkin mereka  banyak pikiran dan pekerjaan juga (bukan mikirin kamu ajah #lho)

Mereka tidak pernah melupakanmu, bukankah kamu tau sendiri kalau apa pernah ada tidak akan pernah hilang?

Mungkin (lagi) hanya tersamarkan oleh beberapa hal, tapi tidak akan benar-benar hilang.

Ingat tidak akan pernah benar - benar hilang!

 

Kamu punya kenangan dengan mereka bukan? Ingatlah kenangan itu! Setidaknya itu bisa sedikit menolong kerinduanmu pada mereka. 

Bukankah kenangan adalah kesempatan untuk berbahagia kedua kali?

 

Yeah, benar!

 

Aku sedang rindu dan mereka pun merindukanku.

 

mereka yang tidak pernah tidak merindukanku, adalah Bapak sama Mamiku dan adekku, Ninink dan Rio :)

Surabaya, 4 Mei 2013

Posted 2 weeks ago

Menghargai Diri Sendiri

Pertanyaan seorang sahabat kepada saya:

“Bisa tidak menghargai dirimu sendiri dengan nilai yang lebih tinggi?”

Pertanyaan ini memang majleb jleb jleb jleb.

Tapi saya suka.

Sampai hari ini, pertanyaan ini selalu tertempel di otakku. Hingga menggumamkannya oun membuat hatiku merasakan sesuatu.

Dan saya pun menanyakan hal ini pada bebrapa orang, bagaimana mereka menghargai dirinya sendiri.

Amanda: pertanyaanmu kok jleb ki. Tapi benar sih. Aku kok bingung juga bgmn cara menghargai diri sendiri.

Kak Indra: Sederhana sekali. Kenapa kamu mau sukses?Itu salah satu bentuk penghargaan kepada diri sendiri. Kenapa? Karena dengan membahagiakan mereka, otomatis membahagiakan diri sendiri. Itulah bentuk paling konkrit menghargai diri sendiri. Bahagia yang paling murni adalah betuk kebahagian yang muncul saat kita mampu membahagian orang lain. Itulah mengapa, saat kita membahagiakan orang lain akan muncul penghargaan dari orang lain.

 

Kak Uni: Nanti kita face to face, dek.

 

Mas Gun: Dengan tidak membanding-bandingkan diri sama orang.. (saya nambah juga mas—> dan tidak menyamakan diri sendiri dengan orang lain)

 

itulah, tapi yah tapi??

 

ada yang mau bantu menjawab pertanyaan ini “bagaimana mereka menghargai dirinya sendiri”?

Posted 2 weeks ago

muhammadakhyar:

widiiiihhh… keren.

plevacon:

confusababel:

LITTLE PEOPLE STREET ART

This is beautifully done!

Posted 2 weeks ago

Buyut Helni

Buyut…

Ini tentang seorang teman. bukan, tapi sahabat.

Yang tidak bertemu selama 6 tahun..Hanya berkomunikasi lewat sosmed dan smsan.

Yah, hanya dgn itu. Tapi, dia seakan hadir. Melebihi orang yang di sini.

Terkadang iri melihat teman sekamar teleponan dengan sahabatya? tapi anak satu ini benar2 tidak mau ditelepon.

Ketemu saja, susahnya minta ampun -_-

Dulu terpisahkan oleh kota. sekarang terpisahkan oleh pulau.

Tentang dia, sahabat. Yang mulai saat ini tidak ada istilah “makasih”, katanya “Kayak bukanka sahabat ta kalo bilang makasih”

Sempat tersenyum ketika dia mengetik kalimat itu, tapi benar. Dia sahabat.

Dia, sahabat, yang belum bisa saya beri apa2…Mungkin hanya kasih sayang. Selebihnya, dia bisa mendapatkan sendiri. Yakin.

Kembali, tentang dia, sahabat. SMS geje2an. Hahaha…

Yah, dia, sahabat, semoga selamanya, bertemu di surga, dan saling bercerita tentang pertemuan yang mungkin tak terjadi di dunia.

Hey, sahabat, big hug….

 

 

Surabaya, 21 April 2013

buyut Zuhelni Zainuddin…

Posted 2 weeks ago

Susahkah tersenyum?

Saya masih sering bingung kenapa amasih ada orang yang susah tersenyum? Atau saya yang terlalu “murah” senyum?

Karena mnurut saya, senyum itu “mencairkan”

Mungkin saja, dengan senyummmu, seseorang bisa tersenyum pula.

Atau setidaknya kamu membahagiakan orang yang kau senyumi.

Atau mungkin, kalo tersenyum, suasana kaku bisa jadi santai

Jadi apa susahnya untuk tersenyum?

Cukup mengubah sedikit posisi bibir…

Tapi, sudahlah. Itu tergantung kalian, mau tersenyum atau tidak.

 

 

Satu yg setidaknya harus kalian tau, orang yang tersenyum akan selalu terlihat lebih manis.

Posted 2 weeks ago

Nakal..!

Klasik.. Pagi hari. Teras. Koran. Dan secangkir stroberi hangat.

Namun,rutinitas itu tak seklasik kamu. Kamu selalu saja berbeda. Bahkan hati pun sering berbeda.

Hatimu nakal banget… Pergi ke sana. Pulang ke sini. Melancong ke situ. Dan kembali lagi ke sini.

Kamu sering bertanya, hatimu harusnya pergi ke mana? Sana? Situ? Sini?

Dan aku pun terdiam dengan beribu pertanyaan yang kau lontarkan tanpa memberiku waktu berpikir. Dan kau berlalu lagi, ke situ.

Aku tidak perlu menjawab pertanyaan tadi itu. Yang aku tahu, hatiku selalu mengikuti hatimu ke manapun kamu pergi.

Dan kamu tidak pernah tau itu, bukan? ketika aku yang bertanya tentang hati, mampukah kamu menjelaskan keadaan hatiku juga?

Aku rasa, kamu akan memilih diam. Dan mungkin akan berlalu, ke sana.

Dan hatiku? Masih dengan hobinya, mengikuti hatimu.

Hingga lelah. Hingga ia tak mampu berjalan. Dan akan kembali ke tempatnya. Ke tubuhku. Diam dan menunggu. Hatimu.

 

 

 

Surabaya, 21 April 2013

Posted 2 weeks ago

23 April :)

Selamat tanggal 23 April, Rezki Noviana Agus.

 

Dulu itu tahun 2008 kan yah? 23 April 2008.

Waktu kita berucap Bismillahirrohmanirrohim untuk sebuah ukhuwah. Untuk sebuah persahabaatan.

Dulu itu tahun 2009 kan? Terakhir bertemu. Saat kau memakai baju kuning datang ke rumah. duduk dan bercerita.

Masing-masing dari kita tersenyum kaku. Diam. Berbicara. Diam lagi. Dan tersenyum lagi.

Dan sekarang, 2013. Berarti sudah 4 tahun tak bertemu? Hem, lama yah. Padahal kita sepulau. Aku di surabaya. Kamu di Jakarta.

Waktu pulang ke Sengkang pun tak ada kesempatan bertemu. Hehehehe

Lucu yah. Tentang tenggelamnya persahabat. Oleh mereka. Oleh waktu. Oleh kita sendiri, bukan?

Yang tak piawai menarik-ulur benang yang kita bentangkan bersama. Aku menarik kamu menarik. Kamu ulur, aku juga ulur.

Mungkin, kita masih sama-sama menjaga. Dalam diam. Tak mengungkapkan.

Ah memang, kita masih sama-sama sulit mengungkapkan. Masih nyaman dengan ke’diam’an itu.

Biarlah, tak perlu diusik. Cukup disimpan. Mungkin suatu ketika, saat tabungan rindu sudah penuh, kita akan kembali bertemu.

Bercerita tentang kehidupan yang kita lalui. Tentang apa yang pernah membuat kita tersenyum. Dan apa yang pernah membuat kita menangis.

 

Sudah dulu. Sudah malam. Semoga suatu saat. :)

 

 

 

Surabaya, 23 April 2013.

 

#merindukansosoknya

Posted 2 weeks ago

Telah pergi

Kamu bertanya padaku tentang hati?

Aku tidak punya. Maaf.

Dia, hatiku, telah pergi.

Tak memberiku alasan menahannya.

Tak memberiku alasan membencinya.

Dan tak memberiku alasan melupakannya.

Dia, hatiku.

Diambil paksa tanpa mengucapkan satu katapun.

Tak ada kalimat perpisahan.

Apalagi pertemuan.

Dia, hatiku.

Yah, satu hatiku itu, tak pernah menoleh meski hanya untuk melirikku.

Dia pergi seenaknya.

Meninggalkan perasaan yang tertimbun bertahun - tahun.

Dan hari ini, aku mengunjungi hatiku.

Di sini. Ditemani semerbak melati.

Tertuntuk sendiri di depan gundukan tanah.

Surabaya, 1 Mei 2013

Posted 1 month ago

asrihz: I am a human being, a thinker, an adventurer, not a worker!!!

asrihz:

Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech

by Erica Goldson

Here I stand

There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master…

Posted 1 month ago

You Are Either With Me, Or Against Me

Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini.Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

 

 

 

teks asli : http://www.lewrockwell.com/pr/valedictorian-against-schooling.html